Siswi SMPK 2 Harapan Raih Medali Perak di Ajang Olimpiade PPKN Undiksha

Untal-untal, 28 Juli 2025 – Siswi SMPK 2 Harapan, Komang Adhya Pradnya Prianka, sukses mengukir prestasi membanggakan dengan meraih Medali Perak (Silver Medal) dalam ajang OCEANS’S (Olimpiade Civic Education and Social Studies) tingkat Provinsi Bali. Kompetisi bergengsi yang diselenggarakan oleh Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) ini memperlombakan dua bidang, yakni IPS dan PPKN.

Adhya, siswi angkatan 2025/2026, terpilih mewakili sekolah di bidang PPKN. Ia menceritakan bahwa perjalanannya di kompetisi ini adalah sebuah proses panjang selama lima bulan yang penuh tantangan dan pembelajaran berharga.

Perjalanan Adhya dimulai pada bulan Maret saat ia diajak oleh gurunya. Ia mengaku sempat ragu untuk ikut serta karena merasa belum terlalu mahir di bidang PPKN. Namun, tekadnya menguat didorong oleh motivasi untuk meraih prestasi demi mendaftar ke SMA impiannya.

“Selain itu, pengalaman dari lomba pertama yang pernah saya ikuti justru membuat saya semakin bersemangat, seakan-akan ketagihan untuk kembali merasakan tantangan,” ungkap Adhya.

Setelah sebulan persiapan, ia bersama rekannya, Averina Mieko (bidang IPS), menghadapi babak penyisihan Rayon Badung pada 10 April 2025 di SMAN 2 Abiansemal. Adhya mengenang babak ini sebagai pertarungan melawan waktu. “Bukan hanya nilai yang menentukan, tetapi juga kecepatan menjawab. Saat banyak peserta mulai mengumpulkan, saya sempat panik,” tuturnya.

Meski diliputi keraguan, strategi dan doa Adhya membuahkan hasil. Ia berhasil meraih Juara I tingkat Kabupaten Badung, yang diumumkan pada bulan Mei, dan berhak melaju ke tingkat provinsi.

Tantangan di tingkat provinsi yang digelar pada 13 Juni 2025 terbukti lebih berat. Adhya harus berjuang membagi waktu antara belajar untuk lomba dan menyelesaikan kewajiban serta ulangan di sekolah.

Babak ini dilaksanakan secara online namun tetap diawasi ketat. Dengan dukungan penuh dari keluarga dan sekolah, Adhya berhasil meraih Silver Medal (Medali Perak) tingkat Provinsi Bali.

“Memang saya tidak meraih juara utama, namun itu sudah cukup menjadi kebanggaan. Bahkan saya memiliki poin yang sama dengan peserta peraih Gold Medal, hanya saja karena kelalaian saya dalam memanfaatkan waktu, saya belum berhasil,” jelasnya. Dari pengalaman ini, ia belajar pentingnya menghargai setiap detik.

Perjuangan Adhya berpuncak di babak nasional pada 28 Juli 2025. Menghadapi lawan dari seluruh Indonesia, ia kali ini merasa kurang yakin saat mengerjakan soal dan harus menerima kenyataan bahwa ia belum berhasil meraih juara.

Meski sempat kecewa, Adhya memandang kegagalan di akhir sebagai bagian dari proses. “Saya selalu menanamkan dalam diri saya, ‘Orang yang berhasil berarti berjuang lebih keras daripada saya.’ Maka dari itu, saya pun bertekad untuk berjuang lebih keras lagi,” tegasnya.

Bagi Adhya, perjalanan lima bulan ini telah memberinya pelajaran yang jauh lebih berharga daripada sekadar medali, yakni tentang keberanian, keteguhan, dan semangat untuk terus bertumbuh.

“Hal yang membuat saya berani sampai saat ini adalah keinginan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan saya. Hal yang paling saya takuti bukanlah gagal, tapi kalau kemampuan saya hanya mentok sampai di situ-situ saja,” tutupnya.